Filsafat Pendidikan Matematika


Pembelajaran Filsafat pendidikan merupakan suatu pembelajaran yang sangat peting bagi pendidik. Pembelajaran filsafat bersama dengan Prof.  Dr Marsigit, MA memberikan berbagai ilmu kepada kita. Dimulai dari tentang benar – benar adanya dan nyata nya kita sebagai anak didik dan beliau sebagai pendidik. Dan belajar filsafat sendiri bisa dimana saja dan kapan saja. Dalam filsafat, diriku ya diriku, dirimu ya dirimu. Sebenar-benar filsafat  adalah pikiran dan dirimu sendiri.

Sebuah video yang pernah beliau perankan berjudul “ketoprak kekalang rembulan UNY” sangat menarik untuk kita pelajari. Di dalamnya tersirat berbagai petuah-petuah yang sangat bagus. Diantaranya tentang ilmu yang melawan kebodohan. Kita harus terus belajar agar bisa menang melawan kebodohan. Ilmu menjadikan kita kuat dan dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

Di bawah filsafat itu ada psikologi wacana. Psikologi sendiri itu bisa bermacam-macam, bisa psikologi terapan, atau yang lainnya. Pada psikologi wacana kita bisa menggali potensi potensi apa yang baik untuk diri kita dan baik untuk diri orang lain. Bisa berawal dari yang paling sederhana saja, misalnya nama. Kita bisa memaknai nama kita sendiri. Orang yang berpendidikan, orang yang mengerti masa depan, orang yang mengerti adat itu membuat nama pasti punya maksud, punya aturan, dan tidak sembarangan atau tidak asal. Tidak hanya sekedar mencari sesuatu yang fenomenal.  Nama dapat memiliki arti secara klasik, kontemporer, sejarah, maupun spiritual.

Filsafat itu berbeda dengan matematika, jika dalam matematika yang tadinya tidak paham berubah menjadi paham, tetapi sebaliknya, dalam filsafat yang tadinya paham justru menjadi tidak paham. Terjadi goncangan di dalam pikiran itu tidaklah begitu masalah, tapi janganlah terjadi goncangan di dalam hati. Sedikit saja ada goncangan di dalam hati itu datangnya dari syaiton/setan.

Filsafat apabila ditingkatkan adalah spiritual. Semuanya itu adalah spiritual, padahal filsafat itu ya semuanya, termasuk filsafat spiritual. Filsafat spiritual itu adalah memikirkan perasaan. Spiritual itu adalah perasaan, hati, doa, kuasa Tuhan, tidak cukup hanya dengan pikiran. Tetapi kita perlu ilmu dan berpikir untuk mengisi spiritual. Prinsip-prinsip spiritualitas sebagian juga berlaku di dalam filsafat, misalnya  dalam kehidupan sehari-hari bahwa mausia itu tidak boleh sombong.

Sombong itu adalah godaan setan, dimana sombong itu tertutup dan merasa bisa. Contoh nyatanya adalah yang dilakukan seluruh mahasiswa saat menjawab pertanyaan tes jawab singkat, dimana mahasiswa tidak mengetahui tapi bisa menulis, itu adalah bukti dari kesombongan. Simbol dari kesombongan itu adalah aku dan keakuan, maka Tuhan itu sangat benci pada kesombongan. Sombong itu bisa sadar dan tidak sadar, karena bisa saja karena sudah terbiasa dan memang tabiatnya.

Di dalam filsafat, ilmu yang paling tinggi adalah dimana seseorang merasa dia sudah tidak memahami apapun. Sehingga dunia ini kontradiksi, dimana Marsigit tidak samadengan Marsigit. Jika A = A maka itu harus terbebas dari ruang dan waktu, dan yang terbebas dari ruang dan waktu adanya di dalam pikiran. 

Spiritualitas dari perasaan itu adalah mensyukuri semuanya. Jika kita bisa menanyakan tentang letak perasaan maka kita juga bisa menanyakan letak pikiran. Letak  pikiran juga ada pada seluruh yang ada di dunia dan di ak

hirat. Maka ini berkaitan pula dengan obyek filsafat, dimana obyek filsafat adalah apa yang ada dan yang mungkin ada. Apa yang ada? Semua yang pernah engkau pikirkan dan yang sedang kau pikirkan. Lantas bagaimana dengan yang belum ada? Yang belum ada tentunya lebih banyak lagi. Belum ada itu artinya belum ada di dalam pikiranmu.

Selanjutnya Objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada, karena filsafat itu merupakan olah pikir maka yang mungkin ada dimaksudkan yang ada dalam pikiran. Kita mengetahui sedikit yang ada dalam pikiran kita, satu diantara semiliar pangkat semiliar dari keseluruhan yang mungkin ada yang bisa kita pikirkan. Atau juga yang ada dan yang mungkin ada di dalam hati. Dalam spiritual, yang ada dan yang mungkin ada di dalam hati. Permasalahan dalam filsafat hanya ada 2 macam, yaitu : bagaimana kamu bisa menjelaskan yang ada dalam pikiranmu, dan bagaimana kamu mengerti apa yang di luar pikiranmu.

Dalam setiap petemuan beliau selalu memberikan pertanyaan karena ingin menyadarkan atau mengadakan dari yang mungkin ada menjadi ada dalam suatu persoalan. Ketelitian pikiran seperti “apa sebab?”, sebab dari kata sebab yang berarti sebab. Sehingga apa yang ada di dunia ini adalah sebab. Sebab dari suatu sebab adalah sebab. Karena semua yang ada di dunia ini adalah sebab. Ada sebab primer dan sebab sekunder, sedangkan sebab yang utam dan pertama adalah Allah SWT. Ada sebab primer dan sebab sekunder. Ada sebab utama dan sebab yang pertama yaitu Allah SWT karena tidak ada sebab lagi yang mendahului-Nya. Setelah itu semua ciptaan adalah sebab.

Determin itu jatuhnya suatu sifat ke sifat yang lain. Dunia itu ya seperti itu aja. Memndang itu menjatuhkan sifat. Eh kamu memandang kepada saya, berarti kamu sedang menjatuhkan sifat kepada saya. Memikir pun determin, melihat pun determin, aku melihat tembok maka aku menjatuhkan sifat ke tembok itu. Tuhan menjatuhkan sifatnya yang Ar-Rahman dan Ar-Rohim maka terciptalah dunia ini. Jatuhnya oksigen ke darah itu determin, persis seperti engkau melihat saya dalam filsafat kedudukannya sama dengan gempa bumi di Palu.

Filsafat bekerja dalam kehidupan dengan mengerjakan apa yang kau pikirkan dan pikirkan apa yang kau kerjakan. Doakan apa yang kau pikirkan, doakan apa yang kau kerjakan.  Manusia yang sebenar-benarnya hidup adalah sesuai ruang dan waktu. Saya ada dan hidup di sini sekarang, namun tidak di tempat lain ataupun di waktu lain.

Bayangan bergantung pada pikiran dan rasa. Seperti halnya pikiran memuat hal yang ada dan mungkin ada. Begitu juga dengan rasa yang ada dan mungkin ada. Pikiran tidak akan mampu menjelaskan semua rasa. Sehebat – hebat kalimatku/ perkataan tidak bisa mengejar pikiran. Sehebat – hebat tulisan tidak bisa mengejar ucapan. Sehebat – hebat tindakan tidak melaksanakan semua tulisan. Kita tidak bisa mengejar segalanya dengan penuh, apalagi spiritual. Jangan mencoba untuk bermain pikiran dalam hal spiritual. Tuhan merupakan sebab pertama dan utama. Kita harus berada pada jalur yang benar agar terhindar dari ancaman kematian. Yang dimaksud ancaman kematian adalah kemunafikan atas tidak mengakui keTuhanan

Sabar itu sesuai ruang dan waktunya. Menyesuaikan terhadap ruang dan waktu. Itu sabar. Jadi menyesuaikan antara penglihatan, pemikiran, pendengaran, dan tindakan terhadap ruang dan waktunya yang sesuai. Kemudian juga sifat menerima, toleran. Nah, kita itu punya dua arah, arah keluar dan arah kedalam. Sifat toleran itu adalah mengurangi suatu sifat determinis terhadap suatu sifat kepada sifat yang lain. jadi deterministic, diterministik yaitu menyadari diri sendiri bahwa tidak semata-mata dikarenakan diriku tetapi diriku itu hanya sebagian dari sifat-sifat yang ada. Bahwa masa depan saya itu tidak semata-mata karena diriku tetapi karena diri orang lain dan juga paling penting karena kuasa Tuhan. Jadi kalau sudah dikurangi, diturunkan egonya karena ego itu potensi menjadi seorang determinis.

Dalam hal pelecehan agama, agama jika dalam kajian kita masuk kedalam spiritualitas, sedangkan pelecahan itu termasuk pemanfaatan bahasa. Bahasa tidak akan mampu mencerminkan pikiran, maka terkadang pikiran saja tidak terlalu lengkap apalagi bahasa ada yang disadari, tidak disadari, sepenggal-penggal dan sebagainya. Sehingga hal tersebut bisa memberikan suatu makna berbeda terhadap  apa yang dimaksudkan, maka dari itu akan menimbulkan suatu pelecehan. Pelecehan agama itu terjadi jika tidak menerapkan dalil-dalil sesuai dengan ruang dan watunya, maka apalah daya pikiran kita dalam memikirkan agama, hal tersebut hanya bisa kita rasakan ketika kita berdoa.

Penyesalan itu termasuk romantis. Tapi dalam pikiran yang dinaikkan dalam spiritualitas, penyesalan yaitu mohon ampun atas segala dosa. Selain itu, setiap saat beliau punya gengsi. Gengsi terhadap yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Kita harus gengsi sama setan. Tumakninah, istikomah, dan amanah terhadap ruang dan waktu.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Filsafat Pendidikan Matematika

Tokoh Aliran Filsafat